Sebagai seorang manusia, kita selalu ingin mendapatkan pengakuan akan jati diri, berusaha untuk berguna dengan apa yang telah kita lakukan dan dapat menjadi contoh, kadang merasa suka menjadi pusat perhatian dan di puji.
Betapa bangganya diri ini jika kita menjadi suatu teladan dan sebagai contoh yang baik bagi orang lain bahkan saat sudah tidak ada lagi di dunia ini akan tetap memberikan harumnya, namun bukan berarti kita mengejar sebuah pujian walau tidak munafik kita suka di puji akan yang telah kita lakukan, namun akan lebih baik saat kita melakukannya memang dengan ikhlas tanpa mengharapkan apapun, berbuat baik karena memang karena Tuhan semata bukan karena ada yang lain.
Kadang saya berpikir terlalu naif, berharap bisa berguna dan memberikan yang terbaik bagi orang lain, kadang merasa seperti menggunakan topeng, berbuat baik jika didepan orang lain, berkata baik jika ada maunya namun sebenarnya sungguhlah bobrok. Setiap perbuatan akan menuai akibatnya masing-masing, tergantung dari sisi baik atau buruk yang kita ambil.
Kira-kira apa yang bisa kuberikan, apakah sebuah senyuman di pagi yang berkabut, tawa riang dikala malam pekat menyelimuti ataukah mengusap airmata kesedihan orang lain di matahari yang cerah, sedangkan langit yang biru terhampar sangat luas dan Tuhan menciptakan semuanya dengan sangat sempurna untuk memberikan keindahan dan kebahagiaan kepada mahluk NYA, lalu apa yang bisa kuberikan?
Sebagai mahluk NYA, penulis sadar bukanlah sesiapapun dan tidak kuat dibandingkan yang lain, hanya seorang mahluk biasa yang mendambakan kebahagiaan di dunia dan akhirat, berbagi yang bisa dibagi tanpa perlu meminta kembali, melakukan yang terpuji tanpa minta dipuji, mengagungkan Tuhan dan menyamaratakan semua manusia tanpa kecuali, penulis hanya ingin membagi apa yang bisa penulis berikan, walaupun cuma secuil namun setidaknya akan ada gunanya dan berharap berguna.
Setiap mahluk toh pada akhirnya pun akan kembali, namun setidaknya akan ada sedikit harum yang dapat kita berikan, bukankah dahulu kita terlahir menjadi bayi kecil yang tanpa dosa, lalu apakah kita tidak bisa menjaga diri, setidaknya mengurangi dosa yang akan terus kita hadapi saat telah dewasa, salahkah jika penulis berpikir “kita lahir tanpa dosa dan kembali pun setidaknya hanya membawa sedikit dosa”.
Berikanlah apa yang bisa kita berikan, bukan hanya materi dan fisik namun terlebih penting adalah perbuatan dan keikhlasan diri dalam berbagi kepada orang lain. Betapa indah dunia jika kita saling berbagi tanpa adanya emosi dan penyakit hati, betapa susah bagi kita untuk tersenyum, tersenyum dalam menghadapi dunia yang makin keras dan merenggut setiap jengkal kebahagiaan yang ada, lupakah kita pada NYA, hanya DIA yang berkuasa, apapun jika selalu bersama NYA, hal apa yang tidak mungkin.
So, apa yang bisa kau berikan maka berikanlah walaupun hanya sebuah senyuman, bantuan kecil, menjadi pendengar yang baik saat permasalahan di perdengarkan ataupun bantuan lainnya. Setidaknya ada yang kita lakukan, bukan hanya sekedar menjadi penggerutu, pengomel, pengkritik hingga membuat diri jatuh terpuruk, namun setidaknya berikanlah contoh yang baik agar kelak saat kita tidak baik akan menjadi sebuah pengingat untuk menuju kebaikan.