NAFSU DUNIA
Terasa mau pecah rasanya kepala ini dikarenakan banyaknya hal-hal yang dipikirkan, satu sisi bingung mau beli ini, mau beli yang itu, mau kredit ini dan itu, mau simpan uang untuk ini dan itu, biaya hidup dan lain-lain. Hanya nafsu dunia saja yang aku pikirkan, hanya kesenangan diri yang kupikirkan, hanya ego diri yang kuutamakan, hanya ketamakan dan kerakusan diri yang kutanam dalam hati hingga menghalalkan segalanya. Pusing rasanya kepala dan sakit hati ini karena apa yang diinginkan belum terpenuhi, susah tidur dan tidak bersemangat dalam hati dan pikiran hanya tertuju pada hal yang sangat kuinginkan, kucoba berkali-kali untuk menghadangnya dan menepisnya, bukannya berkurang malah semakin kencang keinginan itu.
Saat semua itu mencapai puncaknya, dimana nafsu, ego, gengsi, kesombongan dan keserakahan bersatu dalam diri, terjadi pergolakan yang sedemikian kuat dalam diri ini antara kubu yang baik dan jahat, aku memutuskan untuk bertanya pada Tuhan sebagai kubu yang netral, kuserahkan semua kepada Tuhan, karena aku yakin semua ini adalah milik Tuhan, bahwa tubuh, jiwa, nafsu, hati dan pikiran semua pasti akan tunduk pada perintah Tuhan.
Tuhan menjawab doaku saat itu juga, Tuhan dengan bijaksana membuat hati dan pikiranku kembali normal dan dapat berpikir dengan sehat dan Tuhan juga membuka mata hati dan pikiranku dengan kejadian-kejadian yang terpampang jelas dalam ingatanku baik itu hal yang kualami sendiri atau pengalaman dari orang lain. Bahwa semua nafsu tersebut tidak harus selalu dituruti, sebagai manusia yang bijak dan cerdas, aku dituntut dapat mengambil keputusan, apakah haal yang kita inginkan tersebut memang diperlukan, apakah sifatnya mendadak, apakah akan ada yang terluka atau menangis jika hal itu tidak tercapai, apakah aku akan mati jika hal itu tidak tercapai dan yang terpenting apakah Tuhan akan maarah dan murka jika hal yang sangat kita inginkan tersebut tidak tercapainya. Secara tegas saya menjawab tidak karena hal yang kuinginkan hanya sebagai peningkat rasa gengsi, hanya sebagai sarana untuk menyombongkan diri, dan hanya sebagai nafsu sesaat yang berakibat sangat buruk dikemudian hari kelak.
Contohnya aku saat ini sangat ingin sekali memiliki handphone yang sangat mahal dan canggih, namun apakah hal itu memiliki kegunaan yang penting untukku atau apabila aku tidak memilikinya apakah aku akan sekarat kemudian mati, atau saat ini aku sangat ingin punya rumah atau aku ingin pindah kerja ketempat lain karena tergiur akan materi yang lebih besar dan banyak lagi kemauan diri ini yang banyak mudaratnya daripada untungnya hanya karena nafsu sesaat tanpa mempertimbangkan sisi baik dan buruknya bahkan jeleknya tidak mau berdiskusi dengan Tuhan akan hal ini.
Apa sich yang kupikirkan, kenapa aku terlalu tidak tahu malu, mengapa begitu mudah mengatakan kata syukur, ikhlas dan sabar dimulut saja ketimbang menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Tak takutkah aku pada murka Tuhan yang begitu benci melihat umatnya ini yang terlalu serakah dan sombong seakan dunia ini kekal dan abadi, bukankah Tuhan sudah sangat jelas mengatakan bahwa Dunia hanya sementara, ambil yang baik dan ambil yang buruk sebagai pelajaran untuk mendekatkan diri lebih dan lebih lagi kepada Tuhan, bahwa kelak kematian akan datang menjemput, bahwa kiamat itu pasti datang, dan bahwa harta dan segala isi bumi ini akan sirna, tak ada satu pun yang dibawa selain amal ibadah yang baik dan ikhlas karena Tuhan.
Teguran Tuhan ini memang nyata dan wajib untuk ditakuti, namun tetap saja nafsu tidak pernah akan mau mengalah karena memang tugasnya lah untuk membuat hati manusia menjadi tetap bimbang dan cenderung mengutamakan nafsunya seperti yang kurasakan saat ini, disatu sisi aku takut namun disisi lainnya aku tetap bandel untuk tetap mencari celah agar nafsu tersebut dapat terlaksana.
Aku butuh waktu untuk dapat menerima semua ini dengan ikhlas dan dapat sabar dalam cobaan nafsu ini, pelan tapi pasti dan dengan penuh keyakinan pada Tuhan yang kucintai melebihi apapun didunia ini, kuputuskan untuk berserah pada Tuhan dan lebih takut pada murka Tuhan, aku tak ingin Tuhan marah apalagi sampai Tuhan meninggalkanku. Aku tak perlu harta, aku tak perlu jabatan, aku tak perlu kekayaan yang berlimpah, aku tak perlu pujian yang menjerumuskan, aku tak perlu semua yang ada didunia, yang kuperlu dan kubutuhkan hanya Tuhan, karena aku sangat yakin jika Tuhan berkehendak apapun akan terjadi, Tuhan hanya perlu mengatakan Terjadi maka Terjadilah.
Semua ini milik Tuhan, jika memang hal tersebut terbaik bagi kita cepat atau lambat Tuhan akan memberikannya, apapun itu harta, jodoh, jabatan, rejeki, kekayaan akan Tuhan berikan bahkan tanpa kita meminta, namun aku juga harus cerdas bahwa semua itu merupakan titipan dan cobaan dari Tuhan agar aku bisa naik kelas menjadi umatnya yang terbaik, selain kebahagiaan dan kemewahan diatas aku juga harus sangat siap dengan kemiskinan, rejeki yang pas-pas an, jabatan yang biasa-biasa saja, jodoh yang tak kunjung diberi dan lainnya bahwa semua itu sebagai bentuk kasih dan sayang Tuhan kepadaku, dengan diberi kesusahan apakah aku dapat tetap berpikir cerdas dan apakah akau tetap cinta pada Tuhan karena pada taraf ini keyakinan dan kepercayaanku akan Tuhan sedang diuji.
Sungguh nafsu diciptakan sebagai alat untuk memperbaiki diri dan meningkatkan keimanan kepada Tuhan, karena tak ada hal yang sia-sia diciptakan Tuhan hanya kembali kepada aku sebagai umatnya untuk dapat bijak, cerdas dan yakin akan semua ketentuannya. Bahwa nafsu akan kalah jika aku dapat ikhlas, sabar, yakin pada Tuhan, kuat, dan dapat berpikir cerdas akan nafsu yang sedang melanda untuk kemudian menetukan sikap yang terbaik agar Tuhan, manusia dan alam dapat tetap seimbang.
Sungguh terima kasihku pada Tuhan, kasih sayang dan cintaNYA selalu mencahayai hati dan pikiranku yang busuk menjadi lebih indah.
Cukup bagiku Tuhan tak perlu yang lain karena yang lain akan mengikutiku jika Tuhan ada bersamaku. Alhamdullilah atas hidupku yang bahagia ini, sekarang aku bisa lebih bersyukur akan apa yang kumiliki saat ini tanpa harus sakit dan pusing akan nafsu lagi.