Tag Archive: Sign


Sebatas Benang Merah

SEBATAS BENANG MERAH

Bagi sebagian orang cerita saya ini tidak masuk akal dan gak logis, namun dengan sadar aku mengatakan pernah mengalaminya.

Semua bermula saat aku kelas 1 SMK mendekati akhir semester, pada suatu waktu aku hendak mandi di kamar mandi dengan bak mandi yang besar pula, entah ilusi atau apa aku melihat bayangan hitam di dalam bak mandi tersebut yang seakan-akan keluar untuk menerkamku, karena lampu di kamar mandi mati aku tidak bisa melihat dengan jelas bayangan apa yang ada didalam bak mandi tersebut, namun setelah dilihat seksama ternyata itu adalah kepala buaya berwarna hitam yang besar sekali, jelas saja aku takut namun aku gak berteriak hanya saja aku langsung keluar dari kamar mandi tersebut.

Kejadian senja itu tidak kuceritakan pada orang tua dan keluarga, kejadian itu jadi perenunganku malam itu hingga tidak bisa tidur, dalam pikiran benarkah yang kulihat ataukah hanya ilusi semata, pertanda apakah ini, semoga besok pagi semua jadi lebih baik.

Pagi besoknya, saatnya kembali ke sekolah, pagi itu aku bergegas hendak mandi karena takut terlambat ke sekolah maklum bangun kesiangan, masuk ke kamar mandi itu lagi pikirku tapi kutepis bayangan buaya tersebut, semoga sudah tidak ada lagi, syukurlah ternyata sudah tidak ada pikirku dan aku pun mandi, sampai guyuran kedua aku seperti melihat pusaran hitam ditengah bak yang seketika membuat aku menjadi takut dan tiba-tiba keluar bentuk kepala buaya hitam yang besar sekali, yang seakan hendak keluar dari dalam bak dan menelanku, sontak aku kaget dan langsung keluar tanpa lupa memakai handuk pastinya, akhirnya pagi itu aku mandi di kran air.
Kejadian itu kembali terulang dan terulang lagi, parahnya aku sekarang tidak bisa mandi disungai seperti dulu lagi, karena setiap melihat sungai atau air di penampungan yang besar bayangan buaya itu pasti muncul.

Suatu maghrib, aku belajar dikamar dan pintu aku kunci maksudnya biar tidak ada yang mengganggu, namun entah itu aku sedang berimajinasi atau apa, aku seperti merasakan dan melihat buaya itu ada dibawah kakiku, di kalimantan kebanyakan rumahnya berbentuk panggung dan dibawahnya air, buaya itu berbicara padaku yang sampai sekarang masih kuingat perkataannya, “ kamu jangan takut, aku cuma ingin jadi temanmu, aku ini jelmaan dan suruhan almarhum ibumu si putri junjung buih, karena kamu sudah lama hidup menderita hatinya.”, takutnya tapi suara itu terdengar jelas.

Dampak dari penampakan tersebut tiba-tiba aku terserang penyakit gatal dalam bahasa daerah disebut biduran, semakin hari semakin parah saja, selain itu setiap adzan maghrib berkumandang, entah mengapa aku selalu ingin melihat air dan menceburkan diri ke air walau hal ini tidak pernah kulakukan dan parahnya aku selalu bertingkah seperti buaya pada saat maghrib tersebut oleh karena itu aku selalu mengunci kamar setiap habis maghrib, karena aku tidak ingin orang tuaku melihat aku yang melata dan menggeliat seperti buaya.
Itu dampaknya secara fisik namun ada juga dampkanya secara psikis yaitu aku bisa melihat jin, bisa membaca pikiran orang dan seperti bisa meramal. Pertamanya aku tidak percaya dengan semua itu, karena kupikir itu adalah sihir dan ALLAH SWT tidak memperbolehkan hal itu karena termasuk dosa besar. Namun entah mengapa, semakin aku tidak mempercayainya malah semakin kemampuan itu berkembang, contohnya aku bisa tahu apa yang sedang temanku rasakan, entah itu masalah pacar, keluarga, pribadi dan lain-lain, pastinya mereka kaget. Ada sebagian yang percaya namun ada sebagian lagi yang tidak, dan sejak saat itu aku menganggap kemampuan itu sebagai imajinasi yang mendekati nyata, sering teman-temanku mengetes aku dengan meminta aku menebak ciri-ciri pacar dan keluarganya beserta sifatnya dan Subhanallah 99% hasilnya benar.

Dengan semakin parahnya penyakit biduran dan sosok buaya tersebut yang selalu hadir, membuatku akhirnya bicara juga dengan ibuku, pertama ibu tidak percaya namun karena melihat betapa takutnya aku masuk kamar mandi akhirnya aku dibawa ke seorang paranormal di kapuas, paranormal tersebut seorang wanita berusia sekitar 40 tahun, dengan membaca sesuatu tiba-tiba perempuan tadi berubah menjadi seorang kakek (kyai) semua itu terlihat dari cara bicara dan sikapnya, jempol kakiku sebelah kanan di urut menggunakan minyak, rasanya waktu itu seperti ditusuk-tusuk, setelah itu beliau berkata kalo aku diikuti oleh gampiran kakekku dari ibu kandungku yang telah meninggal dan hanya kakekku yang bisa membuangnya, sempat dia memberi saran untuk merawatnya, namun dengan tegas aku bilang tidak mau ( walau sempat ragu juga ). Untuk penyakit gatal aku diberi pupur dan untuk membuatku tidak terlalu takut diberi air dna disembur, untuk penyakit gatal Alhamdullilah dalam tempo sebulan sudah sembuh namun untuk penampakkan kepada buaya tidak bisa hilang dan saat telah dimandikan oleh kakekku yang sengaja dipanggil dari daerah Barimba, barulah buaya itu berangsur-angsur hilang dan tidak menampakkan diri lagi hanya saja saat aku berada didekat sungai buaya itu masih terlihat.

Alhamdullilah hidupku normal kembali, namun yang membuatku heran setelah kejadian itu semua banyak perubahan terjadi pada diriku, contohnya kemampuan imajinasi itu tidak hilang, aku bisa melihat jin, aku jadi semakin pintar dan mudah dalam menangkap pelajaran disekolah, dapat mengambil keputusan dengan baik dan bijaksana, aku dibukakan ilmu yang belum pernah ku ketahui daan terus terbuka, dan yang terpenting aku semakin dekat dengan ALLAH SWT dengan semakin rajin sholat dan puasa senin kamis.

Aku patut bersyukur dan mengucapkan Alhamdullilah serta berterima kasih pada ALLAH SWT yang telah memberikan cobaan sekaligus anugerah kepadaku, karena pilihanku yang tepat aku lebih memilih ALLAH SWT dari pada memelihara buaya tersebut yang menurutku dapat membuatku menjadi sirik karena saat aku terkena gampiran tersebut buaya tersebut selalu membantuku dan berharap mau memeliharaku namun rasa cintaku pada ALLAH SWT menyelamatkanku, bahwa jin dan manusia berbeda dunia dan tak akan pernah bersatu hanya ALLAH SWT jua lah yang mampu membantu.

Penghalang yang ada saat itu hanyalah sebatas benang merah, jika aku salah dalam memilih maka putuslah benang tersebut yang berakibat pada keburukan, oleh karena itu hanya percaya pada ALLAH SWT, kembali pada ALLAH SWT, bertanya pada ALLAH SWT dan berlindung pada ALLAH SWT akan masalah yang kuhadapi menjadi solusi terbaik yang bisa kuambil. I Love You ALLAH SWT

Kebaikan Yang Ikhlas

Kebaikan Yang Ikhlas Membawa Berkah Yang Besar

Suatu malam aku berpikir dan merenung, apakah salah jika aku menjadi baik atau berubah menjadi pribadi yang lebih baik…..mengapa saya mempertanyakan ini, ini semua karena pandangan dari sekitar karena melihat perubahanku yang begitu drastis, yang dulunya banyak berbuat yang sia-sia sekarang sudah berkurang, yang dulunya berpikiran jelek sekarang sudah berkurang, yang dulunya perilaku jelek sekarang sudah berkurang, mengapa semua itu harus dipertanyakan seakan-akan heran, tak percaya bahkan berkata kalau aku sakit….bukankah lingkungan seharusnya mendukung dan senang.

Menjadi pribadi yang baik dimata orang lain dapat direkayasa, susah membedakan kebaikan hati yang ikhlas dan tulus, susah untuk tidak merasa sombong akan hal itu, susah untuk tidak menjadi munafik, susah untuk tidak mengharap pujian dan imbalan. Namun apakah hanya sedangkal itu pikiranku, apakah manusia berhak atau kompeten dalam menilai pribadi suatu manusia…dalam hubungan anatar manusia mungkin iya, namun apakah aku harus terlena akah hal itu atau pusing memikirkan itu semua…tidak. bukannya aku tidak mengakui akan penilaian dari manusia namun penilaian dari manusia terlalu berbahaya bagiku karena dengan pujian, cacian, hinaan dan penghargaan merupakan virus yang sangat berbahaya karena dapat membuat lupa diri, dapat membuat putus asa, dapat membuat diri merasa tak berharga dan dapat membuat lupa akan asal diri.

Satu hal yang selama ini terlupakan yaitu penilaian dari Tuhan, sebagai pencipta dan pemilik diri ini ibaratnya aku hanya meminjam tubuh dan segala isinya apakah pantas jika aku merasa bangga akan barang yang bukan milikku, dimana rasa malu disaat aku merasa bangga akan kepintaranku, akan hasil kerjaku, akan kekreatifanku etc seakan aku yang memiliki dan membuat semua itu…sadar wahyu…semua itu dari Tuhan…tanpa Tuhan siapa sich aku…kalau saat ini semuanya dicabut oleh Tuhan masih bisakah aku sombong…sungguh aku tak tahu malu jika merasa bangga akan kemampuan diri dan segala yang kumiliki.

Oleh karena itu aku berusaha untuk menjadi pribadi yang baik dimata Tuhan, dengan rasa ikhlas dan mantap aku merubah perilaku diri, walau sangat susah namun pelan dan konsisten aku bisa melakukannya tentu dengan campur tangan Tuhan didalamnya.
Karena menjadi orang yang baik lebih susah ratusan kali ketimbang menjadi orang yang jahat dan Tuhan akan selalu mencoba orang baik dengan tingkat cobaan yang lebih berat dari orang yang jahat dengan harapan agar orang baik dapat meningkatkan nilainya dimata Tuhan.

Dimulai dengan kebaikan dilingkungan keluargaku, lingkungan sekelilingku, lingkungan kerjaku dan lingkungan pertemannanku, dengan selalu menebar senyum kebaikan, dengan mencoba tidak berpikiran negatif pada orang lain , dengan mencoba bertutur yang baik, dengan mencoba berperilaku yang sopan etc, karena aku yakin dimulai dengan kebaikan yang sangat kecil sekalipun semua itu akan sangat berarti baik bagi pengembangan diri maupun bagi sekitarku.

Tidak ada kata tidak untuk berperilaku baik, berperilaku dan berpikiran yang positif, karena hal yang baik dan dilakukan dengan ikhlas akan memberikan energi yang positif bagi sekitarku untuk menjalani hidup didunia yang lebih banyak tidak baiknya ini.

Tuhan akan selalu memberi jalan dan bimbingan kepada orang yang baik dan Tuhan akan selalu menunjukan kasih sayangnya dengan selalu memberi cobaan kepada orang baik karena Tuhan yakin jika pribadi yang baik akan mampu melewati setiap cobaan yang menghadang dan Tuhan akan menjanjikan tempat yang terbaik baik itu didunia maupun akhirat.

Oleh karena itu adakah alasan bagiku untuk tidak berperilaku baik…jawabanku tentu tidak.

Senyum Surga

SENYUM SURGA

Bagi orang lain tersenyum adalah hal yang biasa, namun dimataku tersenyum adalah sebagai ungkapan akan keikhlasanku pada apa yang telah Tuhan berikan baik itu kebahagiaan, masalah, gaji yang kecil, kerjaan yang banyak, hinaan orang dan lain-lain, aku menunjukan rasa ikhlasku dalam menerimanya adalah selalu tersenyum.

Semua orang bisa tersenyum namun senyum yang ikhlas hanya sebagian orang saja yang dapat menunjukkannya, tidak pernah ada ceritanya orang yang selalu tersenyum jika bertemu orang akan dibenci orang asalkan jangan berlebihan nanti dikira orang gila.

Bertahun-tahun aku mempraktekan senyum ikhlas ini, sungguh hasil yang positif selalu kudapat, musuh hampir tak ada, teman semakin banyak, hati selalu tenang, tiada pikiran stress dan hal-hal positif lainnya.

Mungkin disurga kelak, manusia-manusia pilihan Tuhan selalu tersenyum tidak ada manusia yang merengut, pusing dan wajah yang tak bahagia. Mengapa tidak sejak didunia hal ini diterapkan, sungguh meruginya, betapa sia-sianya Tuhan sudah memberikan wajah yang sangat indah harus dirusak dengan merengut, stress dan wajah marah. Bukankah kita berkomitmen untuk selalu merawat pemberian Tuhan lalu mengapa kita sendiri yang mengingkari komitmen itu.

Tuhan sudah sangat begitu baik, seluruh organ tubuh yang ada pada diri, semua merupakan alat atau sarana untuk selalu ingat pada Tuhan, dan banyak hal-hal yang baik dapat kita lakukan dengan itu semua.

Tetaplah selalu tersenyum tanpa henti, tersenyum yang ikhlas dari hati untuk sekelilingmu, tersenyum yang dijadikan sebagai ungkapan rasa syukur seorang manusianya akan pemberian Tuhan. Senyum selalu membawa energi yang positif pada diri dan sekitar kita, karena senyum ikhlas merupakan ciri orang yang menghuni surga kelak.

Jangan lelah untuk memberi dan membagi pada sekitar walau kita tak punya harta atau kepintaran untuk dibagi namun kita masih memiliki senyum, maka bagilah pada sekitarmu dan sekiatarmu akan merespon dengan anugerah yang luar biasa pula.

Sebuah Pertanda

Sebuah Pertanda

Malam ini aku begitu susah untuk tidur, hati dan pikiranku sungguh galau memikirkan begitu banyaknya bencana yang terjadi di negeri Indonesia ini. Apakah arti semua ini, apakah ini pertanda dari Tuhan, pertanyaan ini yang mengusik pikiranku saat ini.

Semua orang berkata itulah kiamat kecil, namun apa hanya begitu saja, pertanda apa yang sebenarnya hendak disampaikan Tuhan pada mahluknya yang nakal bernama manusia, khususnya aku sebagai umatnya yang paling hina.

Kucoba mencari dan memikirkan apa sich hikmah dibalik ini semua, dalam pikirankudan keyakinanku, mungkin Tuhan berkata agar aku tidak terlalu sombong di dunia yang fana karena merasa manusia mahluk yang paling mulia dimuka bumi ini melebihi mahluk lainnnya yang berakibat hewan, tumbuhan, tanah, air dan udara menjadi tidak bersahabat lagi, tepat seperti yang tersebutkan dalam Alquran yang isinya kurang lebih begini “ telah terjadi kerusakan didarat dan udara akibat ulah tangan manusia”, bahwa hal itu sebenranya sudah diprediksikan dalam Alquran sejak dahulu kala bahwa bumi ini akan hancur dan rusak oleh tangan manusia.

Kemudian aku juga berpikir bahwa selama ini aku terlalu munafik, setelah terjadi bencana yang mengakibatkan jatuhnya korban, aku hanya bisa menonton dan mengucapkan turut berduka cita tanpa bisa melakukan apa-apa, kalaupun aku membantu itu pun dengan banyak embel-embel dan pertimbangan seperti agar dipuji teman dan keluarga, agar lingkungan melihat bahwa aku adalah orang yang dermawan. Namun kemunafikan itu akan jelas terlihat disaat banyaknya orang-orang yang tinggal dijalanan menjadi seorang pengemis, gelandangan, yatim piatu etc kemana aku, bila pun bertemu mereka, aku menjauh atau jika sedang baik uang seribu rupiah atau uang recehan yang kuberikan kepada mereka, itupun dengan mendongkol tanda tak ikhlas karena melihat yang meminta mungkin masih terlihat kuat untuk bekerja.

Kemudian aku berpikir lagi, apakah aku siap jika suatu saat musibah itu datang menimpaku, akupun berusaha untuk memperbaiki ibadahku kepada Tuhan, ikhlas dalam menjalani hidup,menjauhi larangan Tuhan, dan selalu mencoba berpikiran positif atas apa yang tejadi pada diri.

Setiap musibah, bencana, masalah atau apapun yang terjadi pada diri ini merupakan suatu cobaan yang diberikan Tuhan kepadaku kalo istilahnya menurutku adalah Ujian Akhir Semester, yang ujiannya dilakukan setiap hari dengan tingkat yang berbeda-beda, dan sekarang tinggal aku yang harus bisa berpikiran cerdas, apakah aku harus terjebak dengan cobaan yang kuhadapi, yang membuatku menjadi manusia yang gagal dimata Tuhan, menjadi takut dan pesimis melihat dunia, menjadi hamba pikiran sendiri atau apakah aku dapat ikhlas dan sabar menghadapi cobaan, berubah menjadi manusia yang kuat dan selalu cinta kepada Tuhan.

Tentu saja aku akan memilih pilihan yang kedua, walau mungkin akan susah jalan yang kan ditempuh, walau mungkin akan banyak omelan diri atas apaa yang sedang dihadapi, walau kadang terasa lelah menjalaninya, aku harus baangkit dan terus semangat karena walau bumi sudah tua sekali tapi perjalanan yang harus ditempuh masih panjang untukku, masih banyak hal-hal baik yang dapat kulakukan sebagai bekalku kelak, harta dan segala isi dunia hanya titipan tiada guna dipertahankan apalagi sampai mati-matian mencapainya hingga mengorbankan Agama karena saat mati semua itu tak ada yang dibawa selain amal baik, bumi masih perlu banyak dirawat tak bisa merawat dalam skala besar, dalam skala kecil pun bisa setidaknya kita percaya “do small thing more good than don’t do nothing”, besok pasti lebih baik dari hari ini, air mata kesedihan dan kegundahan hati akan hilang seiring dengan terbitnya sang mentari memberi kesejukan udara karena hal itu berarti bahwa Tuhan masih mencintai manusia, namun sang manusia terlalu sombong dan angkuh sehingga pertanda itu dilupakan bahkan tidak digubris, pertama Tuhan mencoba dengan cobaan kecil jika belum berubah juga maka memang harus disentil dengan cobaan yang maha dahsyat agar matanya dapat terbuka namun jika tak berubah juga maka merugi dan celakalah.

Bencana yang terjadi di Indonesia, baik di di Situ Gintung, banjir bandang di Sumatra dan musibah lainnya bukan hanya memperingatkan manusia yang terkena musibah, tapi mengingatkan kita semua melalui musibah didaerah tersebut bahwa Tuhan telah mengetuk hati kita untuk kembali kepadaNYA, kembali kepada Tuhan sebagai pencipta dan sadar bahwa murka Tuhan itu sangat dahsyat maka jangalah membuatNYA marah karena Tuhan melihat kita semua.

Besok yang cerah akan lebih baik, semoga akan lebih baik dari hari ini, semoga Tuhan mengijinkanku untuk tetap menjalani hidup, mengumpulkan kebaikan sebanyak-banyaknya dengan senyum dan keikhlasan yang tak pernah dibuat-buat.

Blog pada WordPress.com. | Tema: Motion oleh volcanic.
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.